Sign up with your email address to be the first to know about new products, VIP offers, blog features & more.

Inilah Dahsyatnya Sisi Lain Tembok China yang Belum Terjamah Pengunjung

Spread the love

Pengumuman Bahwa GreatWall ini tidak untuk Umum

BERAWAL dari impian dua tahun silam, akhirnya saya memberanikan diri membeli tiket Surabaya-Guangzhou, China. Awalnya saya sedikit ragu karena dari berbagai referensi yang saya baca, di China mayoritas penduduknya tak bisa berbahasa inggris.

Saya mulai mengumpulkan data-data tentang Guangzhou dan apa yang bisa saya lakukan di sana. Hingga akhrinya saya berkenalan dengan seseorang yang tinggal di Beijing. Dari dia saya mengetahui bahwa ada bagian tembok besar China yang masih tersembunyi dan sangat jarang dijamah orang karena kendala transportasi dan fasilitas yang tak memadai untuk mencapainya.

Saya justru tertantang ingin membuktikan kebenarannya. Tiket kereta express tercepat dari Guangzhou-Beijing dengan waktu tempuh delapan jam untuk jarak sejauh lebih dari 2.000 km, atau setara jarak Surabaya-Aceh, sudah saya kantongi.

Setiba di Beijing pukul tujuh malam waktu setempat, hal yang mengagetkan adalah panjangnya antrean masuk ke stasiun, antrean penumpang taxi maupun bus. Dan, semalam itu, langit di Beijing masih terang benderang.

Di Beijing saya tinggal bersama penduduk lokal, di sebuah apartemen sederhana, di balik lorong jalan yang cukup sepi dan gelap. Cukup sulit bagi saya untuk menemukan apartemen ini karena keterbatasan saya berbahasa mandarin.

Pada akhirnya semua kesulitan menjadi tak berarti ketika saya disambut baik oleh Xin dan keluarganya.

Pagi hari saya terbangun dengan penuh semangat, untuk melakukan perjalanan ke tembok besar China. Perjalanan akan saya awali naik dari Zhuangdaokou Greatwall dan berakhir di Huanghuacheng Greatwall yang akan memakan waktu hiking sekitar tiga jam.

Kedua sisi greatwall ini jarang sekali dijamah pengunjung. Sebagai informasi, Huanghuacheng berarti desa yang tumbuhi bunga berwarna kuning. Di sekitar tembok yang menjulang sepanjang 15 km itu banyak sekali bunga kuning sepanjang mata memandang.

Tempat ini mungkin dulunya pernah dibuka untuk publik tapi saat ini sisi greatwall ini telah ditutup dengan alasan untuk menjaga cagar alam peninggalan sejarah ini tak rusak dan tetap lestari.

Beruntung saya bertemu warga lokal, juru kunci tembok besar China yang menunjukan jalan melewati semak belukar dan hutan di sisi tebing yang membawa saya naik ke sisi tembok besar yang belum terjamah ini.

Sungguh luar biasa sekali bisa naik ke sini hanya sendiri tanpa ada pengunjung lainnya. Huanghuacheng adalah satu-satunya bagian tembok besar China yang berbatasan dengan sungai di sisinya. Pemandangan dari puncaknya begitu menggoda. Hamparan tembok dikelilingi perbukitan dan sungai.

Hari ini saya baru paham  pepatah ‘tuntutlah ilmu walau ke negeri China.’ Di sana kita akan memahami bahwa hanya dengan bahasa tubuh saja kita bisa berkomunikasi dengan orang lain dan terasa begitu menyenangkan.

NB : Tulisan ini adalah tulisan saya yang sudah diimprovisasi oleh harian Surya dan diterbitkan pada tanggal 3 Juni 2017 (versi onlinenya bisa diliat disini http://surabaya.tribunnews.com/2017/06/02/inilah-dahsyatnya-sisi-lain-tembok-china-yang-belum-terjamah-pengunjung) , karena diharian surya sangat terbatas untuk foto-fotonya maka saya lengkapi disni

Selfie Sebelum Ke Zhangdaokou

Iniliah Huanghua (Bunga Kuning)

Another Selfie

Full Team perjalanan Kali Ini

Landscape

Kondisi jalan sebelum memasuki tembok besar

Beijing Station

Selfie #1

Selfie #2

No Comments Yet.

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by wp-copyrightpro.com